Lingkungan Hidup vs Ekonomi, Pilih Mana?

July 13th, 2008 by haniftea

Bulan-bulan gini bicara lingkungan hidup gak menarik, karena gak ada yang bisa dipersalahkan. Ngomongin lingkungan hidup enaknya kalo lagi ada bencana alam yang ditenggarai sebagai kelalaian manusia, intinya ngomongin lingkungan hidup itu sama dengan mencari kambing hitam. Sering banget rasanya kita lupa akan jasa lingkungan hidup pada bulan-bulan kayak gini, soalnya adem-adem aja. Nah kalo udah ada bencana baru dech kita nyadar akan pentingnya lingkungan hidup. Kalo dah gitu, semua orang bicara lingkungan hidup, gak peduli tahu lingkungan hidup atau nggak, yang pasti ngomong dah, soalnya sederhana aja, nunjuk hidung yang dianggap salah.

Aku juga gak ngerti sih apa itu lingkungan hidup, tapi yang jelas aku ngerasa butuh dan jadi bagian di dalamnya. Pernah suatu waktu aku ditanya oleh seseorang yang tinggal di kawasan hutan. “Pentingan mana sih, gajah dengan manusia?”, tanyanya, saat itu emang lagi ngetren kegiatan resettlement di kawasan suaka dan deket dari situ. Pertanyaan itu wajar, karena ada kekhawatiran hal itu akan terjadi padanya, di sisi lain cuma aktivitas “berhutan” inilah yang ia bisa lakukan untuk penghidupannya.

Jika pertanyaan itu ditarik pada bentuk lain, “Manakah yang harus lebih diprioritaskan, konservasi lingkungan hidup atau pemenuhan kebutuhan manusia (motif ekonomi)?”. Bukankah semua yang ada di dunia ini untuk kepentingan manusia? Manusia sentris. Artinya secara sederhana lingkungan hidup pun keberadaannya untuk kepentingan manusia. Dalam pandangan umumnya, kebutuhan manusia hanya dua, yaitu makanan dan rasa aman (food and security), kedua hal itulah yang memicu aktivitas manusia, berbagai perang yang terjadi, karena dua hal itu.

Uniknya, pertanyaan tentang urgensi lingkungan hidup selalu berhadapan dengan kepentingan ekonomi. Sebagian besar masih melihat lingkungan hidup dan ekonomi sebagai sesuatu yang tidak bisa berjalan seiring, harus dipilih salah satu. Benarkah demikian?

Mencari Jiwa, yang Tidak Mencari

July 9th, 2008 by haniftea

Maaf mas Muslimin (Ketua Umum Bakornas LAPMI/Asisten Sutradara dokumenter Mencari Jiwa/pengamat dokumenter Mencari Jiwa) judulnya aku colong, karena aku sangat tertarik dengan tulisan mas di Independensia kalo gak salah edisi terakhir tuan Omeng atau edisi pertama mas Muslimin menjabat sebagai Ketua Umum Bakornas LAPMI. Dalam tulisan itu mas Muslimin mengupas abis film Mencari Jiwa sampe-sampe kesimpulan yang dapat aku tangkep cukuplah film itu jadi koleksi semata, karena gak ada nilai yang bisa didapat kecuali bait-bait puitisnya pak Omeng (makanya aku koleksi dalam friendster), jadi tentu aja tulisan ini gak akan mbahas itu lagi, cuman minjem judulnya doang.

Soul Discovery, apaan siych? Sewaktu kecil dulu mungkin akrab banget dengan pertanyaan “Cita-citanya mo jadi apa?”, jawabannya tentu beragam, “Mau jadi dokter (cita-cita pasaran anak-anak), mau jadi pilot…. mau jadi mucikari… eh… pramugari…!” dan masih banyak jawaban yang lainnya, tapi yang jelas semua cita-cita anak-anak itu luhur dan mulia, sampai hari ini belum ada cita-cita seorang anak kecilpun (yang aku tahu) yang jelek/jahat jeung sajabana ti eta.

Dalam diri anak-anak sebuah cita-cita merupakan bayangan tentang sosok ideal, makanya tak heran jika seorang anak kecil berganti-ganti cita-cita seiring dengan bertambahnya informasi yang masuk ke dalam diri dia, atau bahkan memiliki cita-cita menjadi sosok hero yang imaginer. Simple memang, tetapi dalam kesederhanaannya itu ada makna yang dalam karena seorang anak kecil menangkap sosok hero-nya dengan nurani, dengan jiwa, bukan dengan pikiran yang picik dan sempit. Cita-cita bagi anak-anak adalah sebuah proses pencarian jiwa, pembentukan identitas dan jati diri.

Pernah suatu waktu aku dan temen ngegarap sebuah film dokumenter untuk salah satu instansi di Jakarta, dalam sebuah wawancara dengan seorang anak yang gak pernah tau siapa orang tuanya, temenku menanyakan apa cita-citanya, ia menjawab dengan lugas “Mau jadi guru” lalu dilanjutkan “Semoga sukses”. Realitas hari ini sama-sama kita tahu, guru bukan profesi yang menjanjikan, bahkan merupakan profesi yang selalu dirundung kenestapaan, tapi di mata anak-anak, itu adalah sosok yang mulia, tempat dimana ia bisa mendapatkan sesuatu, dan bermanfaat bagi manusia lain. Kenapa anak-anak bisa melihat itu? Sekali lagi, karena mereka memandang dengan hati, dengan nurani, dan dengan jiwa, sehingga mereka lebih bisa banyak menangkap sesuatu dibandingkan kita yang katanya lebih dewasa dan banyak makan asam garam.

Kadangkala aku pengen bisa kembali seperti anak kecil yang bisa melihat sesuatu dengan hati yang polos, putih bersih. Aku sering bertanya dalam hati, apakah aku sudah gak punya hati, gak punya nurani, dan gak punya jiwa, karena setiap kali melihat sesuatu selalu dengan kacamata kuda, ngerasa bener sendiri, dan pengen menang sendiri. Lagian tokh aku gak sendirian, bahkan aku masih merasa mending, coba lihat yang lain, banyak yang mendewakan kekerasan sebagai jalan penyelesaian, hanya karena mereka melihat dengan kacamata kuda, ngerasa bener sendiri, dan pengen menang sendiri. Kenapa siych selalu bandingin dengan yang lebih jelek? Kalo mo jujur itu hanya pembenaran saja.

Faktanya hari ini aku memang bukan anak-anak, tentu bukan saatnya lagi mencari identitas dan jati diri, pilihan-pilihan sudah dibatasi oleh realitas. Aku adalah aku, jiwaku adalah kepribadianku saat ini, jadi gak perlu mencari jiwa lagi.

Namun, apakah mencari jiwa atau cita-cita itu hanya milik anak-anak? Tentu tidak. Klo kita ikutan acaranya MLM atau AMT atau sejenisnya, maka hampir bisa dipastikan isinya kompor tuk bercita-cita atau sering diistilahin mimpi, bahkan Amrik aja punya istilah American Dream, tapi namanya juga mimpi, hanya terjadi di waktu tidur. Walaupun kemudian para pendukung mimpi ini kemudian membedakan istilah mimpi dan khayal, dimana mimpi merupakan pikiran yang terprogram alam bawah sadar, kalo khayal ya semacam ngalamun (ngakhayal jeung ngalamun teh eta-eta keneh lin).

Cita-cita hari ini bukan pencarian, tapi cita-cita hari ini adalah rencana. Mencari jiwa saat ini bukan lagi untuk mencari, tetapi untuk mengembangkan dan menggali potensi diri, membersihkan jiwa dari anasir-anasir jahat yang menggerogoti, serta mengisi ruang-ruang kosong jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur yang merupakan fitrah manusia.

Beberapa waktu yang lalu (hari pertama bikin friendster), kebetulan aku mampir ke salah satu profil, dalam blognya ia menulis keinginannya kelak, yaitu ia ingin jadi dokter yang dapat mengabdikan dirinya untuk masyarakat di daerah terpencil, bukan menjadi dokter yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit yang wah, yang hanya sekedar mencari segenggam berlian. Bagiku itu keinginan yang luar biasa, di saat yang lain berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan, ternyata masih ada yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Dan itu bukan cita-cita kosong, karena dia saat ini lagi kuliah di kedokteran, artinya cita-citanya adalah rencana yang realistis, bukan bicara andai-andai. Akan beda jika aku yang nulis seperti itu, dapat dipastikan hanya sekedar perbualan semata, meminjam istilah Sutlisno Bahil, “Hidup adalah Pelbualan”, karena hari ini rasanya aku udah gak mungkin bisa jadi dokter, paling-paling yang masih mungkin adalah punya istri dokter, heu heu heu…. (itu mah gak ada akar, rotan pun jadi atuh…).

Mencari jiwa, yang tidak mencari sesungguhnya jauh lebih sulit daripada mencari jiwa yang mencari (kayak anak kecil getoh maksudna), karena diperlukan kemauan untuk menyadari diri bahwa kita manusia yang dhaif, mau mengakui kelebihan dan kebenaran orang lain, dan mau belajar dari orang lain, tak peduli ia siapa, apakah lebih muda atau lebih tua.

Mencari jiwa, yang tidak mencari membutuhkan kehadiran jiwa, kehadiran hati, dan kehadiran nurani.  Tanpa itu semua, hanya akan menemukan rangkaian peristiwa tanpa makna, hanya sekedar menuh-menuhin memori, karena tanpa jiwa, tanpa hati, dan tanpa nurani, maka kita merasa seakan-akan kita sudah serba paling hebat yang tak membutuhkan pembelajaran lagi.

Ma kasyih ya temanqyu yang udah nulis sesuatu di blognya, sehingga aqyu dapet semangat baru tuk ngusir virus-virus jahat dalam diriqyu dan dapyat mengisi ruang kosong jiwaqyu dengan nilai-nilai luhur yang tlah qamyu tulis walaupun mungkin qamyu gak menyadarinya, tapi yang jelas aqyu dapat pembelajaran dari sityu. Capye dyech….

Persiapan untuk Hari Esok

July 7th, 2008 by haniftea

Hari ini harusnya kedua kakak laki-lakiku ulang tahun yang ke-37, tetapi Tuhan berkehendak lain, hanya satu yang bisa menggenapi umurnya sampai 37 tahun pada hari ini. 

Sembilan tahun yang lalu, tanggal 26 September 1999 sepulang beraktivitas di kampus sekitar pukul delapan malam, teman kost-ku nyampein pesen bahwa aku harus nelepon ke rumah (Tasikmalaya) sekarang juga, katanya penting. Dengan uang pas-pasan (maklum akhir bulan) aku jalan ke wartel yang cukup jauh dari tempat kost-ku, soalnya cuman di tempat itu yang bisa collect call. Sampai disana aku langsunng telepon ke rumah, yang ngangkat Bapak. Begitu tahu aku yang nelepon, pertama kali beliau bilang “Cep sing kiat nya,” (basa Sunda: Cep yang kuat ya), pikiranku langsung menebak-nebak ada apa ini. Aku diam gak ngomong sepatah kata pun. Bapak terus melanjutkan dengan prolog yang panjang, bicara mengenai takdir, kematian, dan lain-lain, yang sejujurnya aku dah gak konsen ngedengerinnya, sampai akhirnya beliau bilang “A Sonson tos ngantunkeun,” (basa Sunda: A Sonson sudah meninggalkan). Aku bener-bener gak percaya, soalnya sebulan sebelumnya aku masih ketemu di Jakarta sepulang Praktek Umum (PU) dalam acara pernikahannya ade sepupu, ia kelihatan sehat, ceria dan agak gemuk.

Aku terpaku sampai akhirnya hanya bisa mengatakan “ya” ketika Bapak mengatakan bahwa jenazah akan dikuburkan esok hari sebelum dzuhur, karena malam ini jenazah baru diberangkatkan dari Jakarta, dan beliau minta aku agar rela untuk tidak melihat jenazah seandainya aku belum datang pada saat itu. Aku langsung berangkat pulang dengan uang pemberian dari kawan-kawan kost (thanks friends), selama perjalanan aku gak bisa menyembunyikan kesedihanku, dan entah kenapa sepanjang perjalanan ada saja yang bikin emosi, dan lama banget. Sampai di Tasikmalaya sekitar jam 1 siang, di rumah banyak orang, tapi gak ada jenazah. Aku langsung menemui ibuku dan mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” karena memang hari itu adalah tanggal kelahiran beliau, dan tak dapat aku bayangkan bagaimana perasaan beliau saat itu, di hari ulang tahunnya beliau mendapat hadiah langsung dari Tuhan, harus kehilangan salah seorang anaknya. Tindakan Bapak untuk tidak menungguku ternyata benar, sampai saat ini kakakku masih hidup dalam diriku, dalam benakku yang terbayang adalah kebersamaan yang indah dan ceria. Seandainya aku sempat melihat jenazah kakakku, mungkin bayanganku tentangnya hanya sesosok mayat yang kaku dan dingin.

Banyak tetangga dan handai tolan serta kawan-kawan kakakku yang mengucapkan bela sungkawa, sekaligus bercerita pengalamannya berinteraksi dengan kakakku. Satu hal yang bisa aku tangkap adalah semua orang yang bercerita selalu menceritakan kebaikan kakakku, bahkan obrolan tetangga di warung kopi yang aku curi dengar pun, menyayangkan kenapa orang sebaik itu harus meninggal cepat.

Dari kejadian itu aku menyimpulkan bahwa kakakku memang sudah siap untuk menghadap-Nya, sudah banyak bekal kebaikan yang ditabungnya, seharusnya aku senang, karena kakakku sudah bisa meraih hasil dari investasi dalam hidupnya. Kalau dipikir-pikir kesedihanku atas kepergiannya adalah bentuk keegoisan aku sendiri, kakakku sendiri tidak bersedih kok, karena dia sudah menyiapkan segalanya untuk menghadap Sang Khalik. Pernah suatu waktu (dulu banget) dia mengatakan bahwa hidupnya gak akan nyampe 30 tahun, dan dia persiapkan itu, akhirnya Tuhan pun memanggilnya di usia 28 tahun dengan penyebab yang sangat sederhana, serangan jantung.

Kesedihan kita ketika ditinggalkan oleh orang-orang yang dekat dengan kita, sesungguhnya adalah kesedihan atas diri kita sendiri, bukan untuk yang meninggalkan kita, karena pada dasarnya kita egois, yang tidak mau kehilangan apa pun, padahal semuanya hanya titipan dari Sang Khalik, termasuk diri kita sendiri.

Kematian bisa datang kapan saja, dan sama siapa saja. Seorang bayi pun sudah cukup tua untuk mati. So, apa yang sudah kita persiapkan?

Apa yang akan orang bicarakan tentang kita setelah mati, tergantung apa yang kita investasikan hari ini.  Kebaikan atau keburukan adalah pilihan, tidak seorang pun bisa memaksa untuk memilih, baik itu pilihan kebaikan atau keburukan, semunya tergantung pada diri kita sendiri. Apa yang mau kita investasikan dan kita presentasikan di hadapan Sang Khalik?

Kuucapkan “Selamat Ulang Tahun yang ke-37” untuk kakakku Revi Bravian Ahmad, “Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat, hidayah, dan perlindungan-Nya, serta semoga tercapai segala asa”. Dan secara khusus kupanjatkan doa untuk kakakku Sonson Ahmad Senjaya, “Semoga Allah SWT menempatkan di tempat yang istimewa di surga-Nya”. Suatu saat insya Allah kita akan berkumpul lagi.

Dan semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan kepada kita semua agar dapat tetap beristiqomah di jalan-Nya dan tetap berinvestasi dalam kebaikan sepanjang hidup. Amin.

Citayeum, 7 Juli 2008

Perempuan yang Kucintai

July 5th, 2008 by haniftea

Sampai hari ini aku gak tau apa itu makhluk yang namanya perempuan. Tiap orang punya definisi tentang perempuan, tergantung apa yang dia alami. Pernah kuberfikir perempuan itu makhluk yang nyebelin dan egois, gak nelpon ato sms aja, marah, padahal kan aku juga bukan hanya mikirin dia, masih banyak yang harus aku lakuin. Lain waktu aku juga ngerasa gak bisa hidup tanpa perempuan, ia ngasih perhatian, ngasih semangat, pokoknya nyaman dengan adanya dia.

Dulu, aku anggap perempuan itu hanya pelengkap hidup, sub ordinat laki-laki, just it! Perempuan harus mengerti laki-laki! Emansipasi kuanggap hanya bentuk gegar budayanya perempuan. Isue emansipasi berarti mengangkat bendera perang sama laki-laki, dan itu harus dilawan!  Emansipasi hanya kedok bagi perempuan yang gak bisa melakukan kebiasaan perempuan, gak bisa masak terus berlindung di balik emansipasi, dikit-dikit emansipasi.

Bicara poligami, tentu aku dukung. Apalagi ada referensi dari Tuhan yang membolehkan itu, Tuhan emang pro maskulin ya….

Kini, aku masih menganggap perempuan itu pelengkap, tapi bukan sub ordinat laki-laki, karena laki-laki pun adalah pelengkap dari perempuan. Jika pun laki-laki ingin dimengerti oleh perempuan, maka cobalah mengerti perempuan lebih dahulu. Jangan pernah berharap akan dimengerti perempuan, ketika tidak pernah mau mendengar, mengerti dan memahami perempuan. Konsep emansipasi barat memang gegar budayanya perempuan, karena dibangun atas dasar relasi kuasa, sehingga laki-laki dan perempuan diposisikan selalu vis a vis, apalah bedanya dengan konsep pertentangan kelas-nya Karl Marx. Islam (menurutku sih) punya konsep emansipasi yang jauh lebih indah, dibangun atas dasar humanis dan fitrah. Laki-laki dan perempuan tidak diposisikan vis a vis, tetapi hidup untuk saling mengisi kekurangan dan saling berbagi (not take and give, but give and give), karena no body perfect atuh. Masalah tentang sesuatu yang dianggap kewajiban perempuan, bukan bicara tugas siapa, tetapi siapa yang sempet dan bisa. Kewajiban perempuan hanya berkaitan dengan kodrat, dan itu kewajiban yang sangat mulia yang tak bisa tergantikan oleh apa pun.

Seandainya saja poligami itu bukan perintah Tuhan, saat ini aku akan menentangnya. Tak ada satu pun perempuan yang ingin dimadu. Tapi perintah tetaplah perintah, harus dilaksanakan, bukan untuk didiskusikan yang muaranya menghasilkan dukungan atau sebaliknya. Islam (menurutku sih) bukan memperbolehkan poligami, tetapi justru memperbolehkan monogami, karena poligami adalah perintah, dan monogami adalah keringanan yang diberikan Tuhan jika tak mampu menjalankan perintah. Tetapi di balik perintah itu terselip tanggung jawab yang besar, yaitu tanggung jawab untuk berbuat adil. Ketika seorang laki-laki berpoligami sedangkan sang istri tidak rela sekalipun hanya dalam hati, maka sesungguhnya laki-laki itu telah mengkhianati tanggung jawabnya pada Tuhan. So, yang paling aman adalah mengambil keringanan yang diberikan Tuhan, yaitu monogami. Alasan lainnya sih, bukannya repot kalo punya istri lebih dari satu, tetapi yang repot adalah punya mertua lebih dari satu, he he he………..

So, siapa sebenarnya perempuan yang kucintai? Hanya dua perempuan yang (harus) aku cintai sepanjang hidupku.

Yang pertama adalah ibuku yang telah melahirkan, membesarkan, dan mendidik aku dengan kasih sayangnya yang tulus dan tak mungkin bisa aku tebus seutuhnya.

Yang kedua adalah seseorang yang bisa aku dengar, mengerti dan memahaminya. Aku gak butuh perempuan yang mencintai aku karena aku pantas untuk dicintainya, tetapi aku hanya butuh perempuan yang mencintai aku karena kecintaannya pada Tuhan. Di tangan perempuan seperti itulah cintaku akan kulabuhkan sebagai wujud kecintaanku pada Tuhan. Di tangan perempuan seperti itulah kupercayakan untuk melahirkan, membesarkan, dan mendidik anak-anakku dengan kasih sayangnya agar sesuai dengan kehendak Tuhan, kelak.

Tapi, entah siapakah perempuan itu…..