Maaf mas Muslimin (Ketua Umum Bakornas LAPMI/Asisten Sutradara dokumenter Mencari Jiwa/pengamat dokumenter Mencari Jiwa) judulnya aku colong, karena aku sangat tertarik dengan tulisan mas di Independensia kalo gak salah edisi terakhir tuan Omeng atau edisi pertama mas Muslimin menjabat sebagai Ketua Umum Bakornas LAPMI. Dalam tulisan itu mas Muslimin mengupas abis film Mencari Jiwa sampe-sampe kesimpulan yang dapat aku tangkep cukuplah film itu jadi koleksi semata, karena gak ada nilai yang bisa didapat kecuali bait-bait puitisnya pak Omeng (makanya aku koleksi dalam friendster), jadi tentu aja tulisan ini gak akan mbahas itu lagi, cuman minjem judulnya doang.
Soul Discovery, apaan siych? Sewaktu kecil dulu mungkin akrab banget dengan pertanyaan “Cita-citanya mo jadi apa?”, jawabannya tentu beragam, “Mau jadi dokter (cita-cita pasaran anak-anak), mau jadi pilot…. mau jadi mucikari… eh… pramugari…!” dan masih banyak jawaban yang lainnya, tapi yang jelas semua cita-cita anak-anak itu luhur dan mulia, sampai hari ini belum ada cita-cita seorang anak kecilpun (yang aku tahu) yang jelek/jahat jeung sajabana ti eta.
Dalam diri anak-anak sebuah cita-cita merupakan bayangan tentang sosok ideal, makanya tak heran jika seorang anak kecil berganti-ganti cita-cita seiring dengan bertambahnya informasi yang masuk ke dalam diri dia, atau bahkan memiliki cita-cita menjadi sosok hero yang imaginer. Simple memang, tetapi dalam kesederhanaannya itu ada makna yang dalam karena seorang anak kecil menangkap sosok hero-nya dengan nurani, dengan jiwa, bukan dengan pikiran yang picik dan sempit. Cita-cita bagi anak-anak adalah sebuah proses pencarian jiwa, pembentukan identitas dan jati diri.
Pernah suatu waktu aku dan temen ngegarap sebuah film dokumenter untuk salah satu instansi di Jakarta, dalam sebuah wawancara dengan seorang anak yang gak pernah tau siapa orang tuanya, temenku menanyakan apa cita-citanya, ia menjawab dengan lugas “Mau jadi guru” lalu dilanjutkan “Semoga sukses”. Realitas hari ini sama-sama kita tahu, guru bukan profesi yang menjanjikan, bahkan merupakan profesi yang selalu dirundung kenestapaan, tapi di mata anak-anak, itu adalah sosok yang mulia, tempat dimana ia bisa mendapatkan sesuatu, dan bermanfaat bagi manusia lain. Kenapa anak-anak bisa melihat itu? Sekali lagi, karena mereka memandang dengan hati, dengan nurani, dan dengan jiwa, sehingga mereka lebih bisa banyak menangkap sesuatu dibandingkan kita yang katanya lebih dewasa dan banyak makan asam garam.
Kadangkala aku pengen bisa kembali seperti anak kecil yang bisa melihat sesuatu dengan hati yang polos, putih bersih. Aku sering bertanya dalam hati, apakah aku sudah gak punya hati, gak punya nurani, dan gak punya jiwa, karena setiap kali melihat sesuatu selalu dengan kacamata kuda, ngerasa bener sendiri, dan pengen menang sendiri. Lagian tokh aku gak sendirian, bahkan aku masih merasa mending, coba lihat yang lain, banyak yang mendewakan kekerasan sebagai jalan penyelesaian, hanya karena mereka melihat dengan kacamata kuda, ngerasa bener sendiri, dan pengen menang sendiri. Kenapa siych selalu bandingin dengan yang lebih jelek? Kalo mo jujur itu hanya pembenaran saja.
Faktanya hari ini aku memang bukan anak-anak, tentu bukan saatnya lagi mencari identitas dan jati diri, pilihan-pilihan sudah dibatasi oleh realitas. Aku adalah aku, jiwaku adalah kepribadianku saat ini, jadi gak perlu mencari jiwa lagi.
Namun, apakah mencari jiwa atau cita-cita itu hanya milik anak-anak? Tentu tidak. Klo kita ikutan acaranya MLM atau AMT atau sejenisnya, maka hampir bisa dipastikan isinya kompor tuk bercita-cita atau sering diistilahin mimpi, bahkan Amrik aja punya istilah American Dream, tapi namanya juga mimpi, hanya terjadi di waktu tidur. Walaupun kemudian para pendukung mimpi ini kemudian membedakan istilah mimpi dan khayal, dimana mimpi merupakan pikiran yang terprogram alam bawah sadar, kalo khayal ya semacam ngalamun (ngakhayal jeung ngalamun teh eta-eta keneh lin).
Cita-cita hari ini bukan pencarian, tapi cita-cita hari ini adalah rencana. Mencari jiwa saat ini bukan lagi untuk mencari, tetapi untuk mengembangkan dan menggali potensi diri, membersihkan jiwa dari anasir-anasir jahat yang menggerogoti, serta mengisi ruang-ruang kosong jiwa yang haus akan nilai-nilai luhur yang merupakan fitrah manusia.
Beberapa waktu yang lalu (hari pertama bikin friendster), kebetulan aku mampir ke salah satu profil, dalam blognya ia menulis keinginannya kelak, yaitu ia ingin jadi dokter yang dapat mengabdikan dirinya untuk masyarakat di daerah terpencil, bukan menjadi dokter yang bekerja di rumah sakit-rumah sakit yang wah, yang hanya sekedar mencari segenggam berlian. Bagiku itu keinginan yang luar biasa, di saat yang lain berlomba-lomba menumpuk harta kekayaan, ternyata masih ada yang memiliki kepedulian terhadap sesama. Dan itu bukan cita-cita kosong, karena dia saat ini lagi kuliah di kedokteran, artinya cita-citanya adalah rencana yang realistis, bukan bicara andai-andai. Akan beda jika aku yang nulis seperti itu, dapat dipastikan hanya sekedar perbualan semata, meminjam istilah Sutlisno Bahil, “Hidup adalah Pelbualan”, karena hari ini rasanya aku udah gak mungkin bisa jadi dokter, paling-paling yang masih mungkin adalah punya istri dokter, heu heu heu…. (itu mah gak ada akar, rotan pun jadi atuh…).
Mencari jiwa, yang tidak mencari sesungguhnya jauh lebih sulit daripada mencari jiwa yang mencari (kayak anak kecil getoh maksudna), karena diperlukan kemauan untuk menyadari diri bahwa kita manusia yang dhaif, mau mengakui kelebihan dan kebenaran orang lain, dan mau belajar dari orang lain, tak peduli ia siapa, apakah lebih muda atau lebih tua.
Mencari jiwa, yang tidak mencari membutuhkan kehadiran jiwa, kehadiran hati, dan kehadiran nurani. Tanpa itu semua, hanya akan menemukan rangkaian peristiwa tanpa makna, hanya sekedar menuh-menuhin memori, karena tanpa jiwa, tanpa hati, dan tanpa nurani, maka kita merasa seakan-akan kita sudah serba paling hebat yang tak membutuhkan pembelajaran lagi.
Ma kasyih ya temanqyu yang udah nulis sesuatu di blognya, sehingga aqyu dapet semangat baru tuk ngusir virus-virus jahat dalam diriqyu dan dapyat mengisi ruang kosong jiwaqyu dengan nilai-nilai luhur yang tlah qamyu tulis walaupun mungkin qamyu gak menyadarinya, tapi yang jelas aqyu dapat pembelajaran dari sityu. Capye dyech….